Racikan Kopi Interaksi

Saat meracik kopi panas, takaran gula, pilihan biji kopi, hingga derajat suhu air menjadi faktor yang penting.
Demikian pula relasi atasan dan bawahan adalah keseharian yang butuh racikan, pahit atau manis, panas atau dingin menjadi keseharian yang tidak bisa dipisahkan, erat dan melekat dalam rangka menyukseskan segala tugas yang diemban.
Ada hubungan yang diibaratkan pola semimiliter, di mana kesan dominasi dan disposisi otoriter terpampang di permukaan. Seorang atasan dengan otoritas yang dimiliki akan menentukan A atau B yang mesti dieksekusi, dengan pertimbangan subyektif plus obyektif yang dimiliki. Pilihan benar atau salah, jalan atau tidak, beres atau tertunda, hak atasan yang menentukan.
Ada pula hubungan pasar, di mana ada supply dan demand, ada penawaran dan permintaan. Dalam bahasa gampang apa yang di dapat atasan dan apa sebaliknya dampak bagi bawahan, atau sebaliknya. Interaksi ini kesan nuansa prinsip ekonomis, mana yang menguntungkan, itulah yang dilaksanakan, mana yang tidak terdampak, menjadi urutan paling belakang.
Di samping itu, terdapat hubungan demokratis, di mana atasan membuka keran dialog yang sangat luas, sehingga terkadang subyektifitas dan sense kepemimpinan terasa lemah. Memutuskan berdasar selera bersama, mayoritas dan kesepakatan. Tepat atau tidak, itulah keputusan bersama.
Adakah yang paling ideal bagi kita? Mungkin dengan menggabungkan ketiganya?
Ada saat tertentu, sang atasan harus otoriter dan tegas dalam memutuskan, ada kalanya dialog untuk merumuskan bersama, dan ada waktunya pula, hubungan laksana pasar dibutuhkan untuk saling menyemangati dan memotivasi.
Itulah hubungan "persahabatan" antara atasan bawahan, mereka saling menguatkan, saling mengingatkan dan saling menghargai. Tidak luka karena teguran, nihil emosi karena perdebatan, dan tiada sakit karena kesalahpahaman, apalagi baper, istilah anak sekarang. Bisakah kita?

Komentar

bestfriend mengatakan…
terimakasih.
salam sehat selalu.
carm

Postingan populer dari blog ini

untung rugi punya NPWP

Orang Pajak Bisa Kaya