Persiapan Mendidik Anak

hari ini, isteri saya mengambil formulir pendaftaran SD untuk anak saya yang kedua (SD yang sama dengan anak saya yang pertama), dan kemudian saya baca dan pelajari persyaratan pendaftaran, jangka waktu dan yang penting berapa duit yang harus dikeluarkan apabila diterima di SD yang bersangkutan. Sesuai perkiraan jumlah yang kami harus bayarkan di awal sekolah nantinya adalah Rp7 jutaan, dan dari situlah munculnya ide tulisan seputar pendidikan anak ini.

Kewajiban mendidik anak
Anak adalah tanggung jawab orangtua, bahkan Rasulullah SAW pernah menyampaikan yang intinya orangtualah yang menentukan apakah sang anak akan menjadi muslim atau yang lainnya (haditsnya tanya sama ustadz aja). Bentuk tanggungjawab itu tentu macam-macam, mulai dari memberi nafkah (lahir dan batin), mendidik dan mengarahkan, mengayomi dan melindungi, dan lain sebagainya, hingga sang anak menjadi dewasa dan siap dibebani tanggung jawab sendiri.
Sebagai orangtua (termasuk calon orangtua), hal ini haruslah difahami dengan baik, sebab jika orangtua tidak mempunyai pemahaman yang baik tentang kewajiban dan tanggungjawabnya kepada anak, rasanya susah bagi sang anak untuk mendapatkan pendidikan yang memadai dari orangtuanya.
Dengan demikian, agar mampu menyiapkan pendidikan yang baik untuk anak-anaknya, sang orang tua, mau tidak mau harus belajar banyak tentang banyak hal seputar kewajiban orang tua terhadap anak, seperti bagaimana cara mendidik anak mulai mengenalkan kata mama-papa sampai pendidikan tentang kehidupan.
Pendidikan anak adalah tanggung jawab orangtuanya, sehingga kalaupun anak kita telah masuk lembaga pendidikan, seperti SD dan seterusnya, tidaklah kemudian berarti, tugas mendidik berpindah seratus persen pada para guru. Sehebat apapun sekolah tempat anak kita belajar tidak akan membuat anak kita menjadi lebih terdidik, apabila tidak didukung oleh partsipasi kedua orangtuanya di rumah. Bagaimana kita melihat banyak anak yang diajari di sekolah dengan berbagai tata tertib yang berniat membuat anak disiplin, kreatif, rajin dan hal-hal positif lainnya, tapi menjadi nol besar ketika di rumah, hanya gara-gara bapak ibunya di rumah terlihat melakukan hal-hal positif yang diajarkan di sekolah. Anak diajari salam, senyum dan sapa di sekolah, tapikalau di rumah sang bapak keluar masuk rumah tanpa sapa, senyum dan salam, maka ini yang lambat laun membekas dan terngiang oleh anak. Maka yang terjadi adalah anak kita meniru dan menconoth perilaku orangtuanya. Anak adalah peniru yang baik, adanak adalah pembelanjar yang baik. Karenanya, jika kita menginginkan agar anak-anak dapat terdidik dengan baik, maka kita selaku orang tua harus mau mendidik diri sendiri agar menjadi orang tua yang mampu mendidik dengan cinta dan sayang dan menjadi figur yang bisa diteladani sang anak.

Ragam Pendidikan
Sebenarnya pendidikan yang dibutuhkan anak ada beberapa jenis, yaitu:
  1. pendidikan dalam arti sempit, seperti pendidikan di SD, SMP, SMA dan PT, serta pendidikan non formal, kursus, les, TPA;
  2. pendidikan dalam arti luas, yaitu pendidikan tentang etika, bergaul, sopan santun, kehidupan, lingkungan dan sebagainya, di mana ini tidak sepenuhnya didapat dari lembaga pendidikan yang disebutkan di atas.
menilik dari dua ragam pendidikan di atas kiranya peran orangtua terbesar ada di pendidikan dalam pengertian yang luas. Untuk pendidikan dalam pengertian sempit tugas orangtua "terbatas" mempersiapkan sarana-prasarana yang memadai agar anak dapat mengenyam pendidikan dengan baik.

Model Mendidik Anak
Di dalam keseharian setidaknya kita temukan beberapa model mendidik anak yang dilakukan oleh para orangtua, yang sebenarnya bisa diambil setiapsisi positifnya dan ditinggalkan sisi negatifnya.
  • model militeristik; adalah suatu seni mendidik anak yang tidak atau kurang berseni, karena yang ada seperti hubungan jenderal dengan kopral, tentu saja anak menjadi kopral dan bapak ibu menjadi jenderalnya. Apa kata bapak ibu, maka sang anak harus siap, segera dan laksanakan. Model ini kalau diterapkan dalam seluruh proses mendidik anak tentu tidak akan membangun kepribadian anak yang sempurna karena anak yang terbisa dengan posisi kopral akan mempunyai kecenderungan tabiat kurang kreatif, monoton dan kurang berani ambil risiko. Namun model ini sesekali tetap harus diterapkan, terutama dalam hal-hal pendidikan itu diarahkan untuk pembiasaan bagi sang anak seperti masalah ibadah atau kedisiplinan, walaupun tentu saja harus disertai dengan teknik berkomunikasi yang jauh dari model militeristik tentu saja laias tidak harus keras tapi tetap tegas;
  • model pasar terbuka; adalah model hubungan pendidikan anak dengan pendekatan untung rugi bagi si anak atau sebaliknya bagi orang tua. Misalnya melatih anak untuk membantu pekerjaan orang tua (misal belanja) tetapi dengan embel-embel kembalian belanjaannya menjadi hak sang anak. Model seperti ini tidak seratus persen benar dan juga tidak seratus persen salah, tetapi sepanjang orangtua faham kapan harus mendidik dengan cara ini, maka akan berakibat positif bagi sifat-sifat kompetisi sang anak, misal memberikan kompensasi bagi anak yang berprestasi.
  • model demokrasi liberal; adalah suatu model di dalam mendidik anak, di mana orangtua mencoba memposisikan setara dengan anak baik itu hak dan kewajiban untuk membangun tanggung jawab anak. Model ini pun pada tataran tertentu mempunyai manfaat sesuai yang diinginkan, anak menjadi ikut berkostribusi di dalam permasalahannya, anak mendapat penjelasan dan komunikasi yang baik tentang apa dan bagaimana, tetapi pada tingkatan tertentu model ini juga berpotensi menimbulkan turunnya peran sakral orangtua, dan kadang disepelekan oleh sang anak.
Nah, kalau ditimbang-timbang, setiap model yang ditulis di atas, mempunyai sisi-sisi positif dan sekaligus sisi-sisi negatif, karenanya lebih bagus andaikata selaku orangtua kita bisa secara bijak memiliha penggunaan model tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Pada saat-saat tertentu menjadi orang tua yang harus ditaati kata dan perintahnya tanpa syarat, terkadang menjadiorangtua yang demokratis dimata anak, dan kadang menjadi dambaan anak karena memberikan benefit secara kongkrit baginya.

So, please try at home....

Komentar

Kus Habib Amrullah, Ak. mengatakan…
Kalau Pendidikan Islam pada anak yang mana akhi...

MILITERISTIK?
PASAR TERBUKA? atau
DEMOKRASI LIBERAL?


Biar antum bisa ngisi blog lagi... blog ana udah setahun gak diisi tuh!
Anonim mengatakan…
beginilah kalo agenda keluarga, kampanye, dan kuliah jadi satu di otak, istilahnya jadi campur2, hehe..
Falih Alhusnieka mengatakan…
anonim siapa yahh? mau tahu aja he he
but thanks atas kunjungannya
ProyekBisnis mengatakan…
Tumbuh kembang anak sampai kepribadian anak, tidak lepas dari bentuk pola asuh anak yang dilakukan orang tua. Kesalahan dalam mendidik anak dapat membuat anak menjadi jiwa pemikiran yang kurang. jadi jangan sampai anda salah dalam mendidik anak.


---------------------------------------
Rahasia mendidik anak agar sukses dan bahagia di anekapilihan.com

Postingan populer dari blog ini

untung rugi punya NPWP

Orang Pajak Bisa Kaya